.quickedit{display:none;}
“KITA BERBISNIS,BERILMU,BERAMAL”
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

Tuesday, May 8, 2012

Pemimpin Yang Baik Dalam Pandangan Islam


Saat Gelisah Dengan Suami

Di bawah naungan ajaran Islam, pernikahan sepasang insan suami istri menjalani hidup mereka dalam satu perasaan, menyatunya hati dan cita-cita. Namun adakalanya pernikahan harus berjalan di atas kerikil. Apalagi saat pandangan mulai berbeda, tujuan tak lagi sama. Mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga terasa tak lagi mudah. Di mata kita pasangan selalu serba salah dan penuh kekurangan.

Keluarga Samara

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan. Karenanya Islam menganjurkan, sebab nikah merupakan gharizah insaniyah. Sebagaimana Allah berfirman,

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Ar-Ruum : 30).

Islam memberi penghargaan tinggi pada pernikahan dan Allah menyebutnya sebagai ikatan yang kuat. Dalam al-Quran surat An Nisaa : 21

“… dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”

Urgensi Pemimpin Dalam Islam


Kepala negara adalah sosok pemimpin tertinggi dalam sebuah negara yang berdaulat, ia menjadi tempat bagi rakyat untuk mengadukan semua permasalahan yang mereka hadapi. Inilah salah satu dari fungsi pemimpin yaitu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada rakyatnya. Jika demikian maka kehadiran seorang pemimpin apakah itu presiden, perdana menteri, ataupun raja adalah sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari sinilah Islam memandang bahwa keberadaan seorang kepala negara menjadi sebuah kewajiban untuk ditegakkan. Ia berfungsi sebagai pemimpin yang mengayomi seluruh kepentingan masyarakat.

Bahkan dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Abu Hurairah dinyatakan bahwa, jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin. Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa jika dalam perkara bepergian (safar) saja telah diwajibkan memilih pemimpin, apalagi dalam perkara memilih pemimpin dalam tatanan kenegaraan, tentu hal ini menjadi lebih wajib lagi. Begitulah mafhum muwafaqah yang bisa ditarik dari hadits tersebut.

Monday, January 9, 2012

Keberhasilan Seorang Pemimpin Di Tentukan Oleh Gaya Kepemimpinannya


Dibalik semua fasilitas serta kelebihan yang dimiliki seorang pemimpin punya tugas dan tanggungjawab berat.  yang acapkali terjadi adalah salah menerapkan gaya kepemimpinan.  Dampaknya itu bisa fatal  bagi sebuah perusahaan.  Bisa-bisa membuat produktivitas karyawan merosot drastis.
lantas bagaimana gaya kepemimpinan berdampak positif bagi perusahaan yang anda pimpin? Pepatah mengatakan “Apapun yang Anda tanam, Anda akan menuai hasilnya”. Bagaimana seorang pemimpin menahkodai karyawanya, itu pula yang akan didapatkan.
Pemimpin yang berhasil  memimpin dengan baik pasti akan dihormati.  Ia tak hanya bekerja dengan baik saja, tetapi sebagai pemimpin dituntut menjadi suri tauladan segenap bawahan.  Sehingga pemimpin itu menjadi penggerak motivasi yang effektif bagi seluruh karyawan.  Karena itulah gaya kepemimpinan yang tepat perlu dimiliki seorang atasan.

Jiwa Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin mesti mempunyai ruah, roh atau jiwa kepemimpinan. Berikut ini paparan mengenai “jiwa” yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. “Jiwa” tersebut antara lain:
Orang yang mau belajar…belajar, dan belajar terus menerus.
Mengapa seorang pemimpin perlu senantiasa belajar?
Alasannya amat sederhana. Seorang pemimpin, dalam banyak hal, ia akan berhadapan dengan orang banyak. Orang yang dihadapi tersebut memiliki berbagai macam karakter dan pembawaan hidup. Mereka juga memiliki keunikan hidup tersendiri. Dengan kemauan belajar terus menerus, diharapkan seorang pemimpin mampu mencerap dan menjabarkan kemauan institusi ataupun kemauan bawahannya, rakyat yang beraneka ragam.

Sunday, October 2, 2011

5 Hukum Komunikasi Yang Efektif

5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.
Hukum # 1: Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan.
Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai." Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.

Tuesday, September 27, 2011

Pemimpin Yang Baik VS Bawahan Yang Baik

MEMBENTUK ETIKA MENJADI PEMIMPIN YANG BAIK

Apakah Anda termasuk Seorang Pemimpin Yang Baik ?, jawabannya ada pada anda sendiri. Tetapi anda juga tidak bisa begitu saja mengklaim bahwa diri anda adalah seorang pemimpin yang baik, karena begitu banyak aspek yang menjadi kriteria yang menunjukkan bahwa anda adalah seorang pemimpin yang baik. 

Menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hal yang mudah, banyak sekali orang berambisi untuk dapat menempati posisi ini, tetapi apakah sebenarnya yang menjadi motivasi mereka sehingga sangat berambisi agar bisa menjadi seorang Bos ??!! apakah hanya sekedar untuk dihargai, disanjung atau dihormati ? wah...ini adalah suatu persepsi yang salah. Bukan hanya dalam dunia politik, pemerintahan atau Perusahaan bahkan dalam organisasi yang paling kecil yaitu Rumah Tangga hal ini sering di jumpai., seorang pemimpin yang seharusnya menjadi seorang pelindung, justru menjadi seorang diktator yang tidak pernah bisa disalahkan. Lantas apa dan bagimana sebenarnya ETIKA yang harus dimiliki seorang pemimpin ?? 

Friday, February 18, 2011

Bos vs Leader

Apa yang membedakan 'bos' dengan 'leader'?
Apa bedanya "PEMIMPIN" dan "PIMPINAN", jangan jangan kita anggap sama.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa BOS adalah PIMPINAN sedangkan LEADER adalah PEMIMPIN. Itu definisi sederhana saya.
Bos atau pimpinan atau atasan adalah kedudukan/jabatan struktural dalam sebuah organisasi atau komunitas. Sedangkan leader atau pemimpin adalah bentuk pengakuan dan penghormatan atas peran, fungsi, pengaruh dan kontribusi seseorang. Seorang bos atau pimpinan tidak selalu menjadi pemimpin bagi bawahannya. Sebaliknya banyak pemimpin yang dihormati dan dihargai, tapi tidak mempunyai jabatan struktural.
Sebagian besar orang menganggap, ketika seorang menduduki pucuk pimpinan sebuah perusahaan atau pemerintahan, mereka telah menjadi "pemimpin" atau "leader". Padahal tidak selamanya demikian.
Orang yang menduduki posisi puncak suatu organisasi memang menjadi "pimpinan" atau "bos" bagi yang lain. Mereka mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari yang lain, tapi tidak berarti mereka otomatis menjadi "pemimpin" bagi yang lain.
Betapa banyak kepala negara yang membawa kesengsaraan rakyatnya. Betapa banyak pimpinan perusahaan yang justru membawa karyawannya ke jurang kehancuran.
Pemimpin adalah mereka yang akan membimbing, mengarahkan, dan membawa kita kepada jalan atau pencapaian yang lebih baik.
Dunia akan menjadi jauh lebih baik jika para pimpinan berfungsi dengan baik sebagai pemimpin atau leader bukan sebagai atasan atau bos.
Semoga buku ini ikut melahirkan pemimpin berkualitas di masa depan.
(Selanjutnya saya akan bocorkan betahap, apa bedanya bos atau leader di seri leadership artikel kami).

Di kutip dari buku poket motivasi :
Pilih Jadi Bos atau Leader di tulis oleh Isa Alamsyah

Catatan tambahan:
Jangan langsung bangga jika punya anak buah, karena belum tentu itu menunjukkan Anda pemimpin (leader).
Punya anak buah menunjukkan bahwa Anda pimpinan mereka, tapi belum tentu pemimpin mereka.

Jika Anda punya murid di kelas mungkin Anda adalah guru mereka tapi belum tentu jadi PENDIDIK

Ketika Anda Mempunyai anak, pasti kita menjadi ayah atau ibu biologis dari anak anak, tapi belum menjamin kita menjadi ORANG TUA panutan mereka.

Tapi yang terpenting kita adalah kit amau jadi PEMIMPIN untuk diri sendiri atau jadi PIMPINAN untuk diri sendiri. Kalau kita jadi bos untuk diri sendiri lakukan sesuka hati, tapi kalau mau jadi PEMIMPIN diri sendiri, lakukan sebaik mungkin.

Tips Meningkatkan Kemampuan Negosiasi Bagi Karyawan

Melva Emsy Simalango
HR Expert
(Vibizmanagement - HR) - Perusahaan-perusahaan besar biasanya mempunyai tim negosiasi tersendiri yang membuat urusan negosiasi jadi lebih lancar, termasuk mengatasi masalah-masalah di dalamnya. Urusan negosiasi menjadi sangat penting dalam dunia bisnis, karena dapat mempengaruhi masa depan suatu bisnis. Contohnya adalah negosiasi dalam penawaran akuisisi, negosiasi dengan serikat pekerja, dan lainnya.

Lalu Bagaimana supaya dapat melakukan negosiasi bisnis yang benar? Dapat diterapkan jurus-jurus jitu berikut ini :
1.Fokus terhadap pokok masalah yang dinegosiasikan, jangan sampai keluar dari pokok masalah yang ada
2.Selalu tertuju kepada tujuan utama yaitu hasil akhir yang kita inginkan dari proses negosiasi tersebut
3.Jangan terpancing emosi dari pihak lawan tetapi tetap tenang dan selalu berpikir objektif
4.Berikan win-win solution pada lawan, dengan mencari solusi yang terbaik dan memberikan keuntungan antara kedua belah pihak dan berikan dengan fleksibel agar terhindar dari jalan buntu
5.Tidak bertele-tele dalam bernegosiasi karena bila negosiasi dilakukan terlalu lama maka cenderung membuat lawan menjadi mudah emosional dan berbalik untuk menekan
6.Riset sebelum bernegosiasi dengan cara mengetahui karakter lawan misalkan karakter lawan, kesukaannya, kebiasaan, hobi, dll, sehingga negosiasi dapat berjalan dengan lebih relaks misalkan sambil bermain golf, atau di restoran, dll.

Dalam bernegosiasi harus terus bersikap teliti, jangan sampai ada kesan untuk menjatuhkan lawan tetapi tetap bersikap adil, masuk akal sehingga keduanya mendapatkan keuntungan dan solusi yang terbaik dari negosiasi tersebut.

Semakin sering anda berani menghadapi masalah-masalah yang ada semakin terlatih kemampuan anda dalam bernegosiasi apalagi ditunjang dengan motivasi untuk memberi keadilan kepada semua pihak. Tanamkan terus menerus dalam hati dan pikiran anda bahwa ada tidak ingin mengedepannya kebenaran anda sendiri agar anda dipandang hebat tapi katakan terus pada diri anda sendiri: keadilan dan keadilan dan keadilan lagi yang anda selalu perjuangkan dalam setiap penyelesaian masalah maka Atittude anda akan semakin terbangun positif dan belajar terus sampai anda sendiri akan melihat bahwa anda orang yang dapat bernegosiasi dengan baik. Contoh negoasiator hebat dunia adalah Bill Clinton, anda dapat lebih jauh mempelajari tentang tokoh ini sendiri.

Salam sukses!

MV/RP/vbm

Tahukah Anda, Tidak Semua Pimpinan Tahu “Job Description” yang Sebenarnya

Melva Emsy Simalango
HR Expert
(Vibizmanagement – HR) - Cukup mengherankan bahwa pimpinan pada level yang sangat tinggi seperti Direktur, ketika diminta membuatkan secara tertulis ruang lingkup pekerjaannya termasuk tugas dan tanggung jawabya (Job Description) ternyata dia tidak dapat mengerjakannya dengan baik.

Ada pimpinan menuliskan JOB DESCRIPTION (PALSU) yang tidak disadarinya dan mungkin banyak orang juga tidak menyadarinya. Seperti apakah Job Desc. (saya singkat) yang palsu itu?
1.Menjunjung tinggi azas integritas dan keadilan sebagai hal yang terutama dalam bekerja
2.Melakukan yang terbaik dalam setiap tanggung jawab kerja
3.Menghormati kebijakan perusahaan dan mengutamakan kepentingan perusahaan diatas segala kepentingan pribadi.
4.Dan seterusnya

Membacanya, mungkin anda berpikir orang ini sangat berpotensi dan penting bagi kemajuan perusahaan. Namun orang yang mengerti arti Job Desc yang sebenarnya mungkin akan menggelengkan kepala dan merasa kasihan terhadap orang ini bahkan ada yang tega menertawakannya.

Melalui artikel ini marilah kita sama-sama belajar apa yang dimaksudkan dengan Job Desc. itu sendiri sebab contoh diatas sama sekali BUKAN job Desc, melainkan NILAI-NILAI (VALUE) yang diharapkan PERUSAHAAN ada di hati karyawannya sebagai MOTIVASI yang membangkitkan semangat kerja.

Berikut beberapa indikator dan cara mudah membuat Job Desc. yang sebenarnya :
1.Haruslah menunjukkan pekerjaan dan tanggung jawab yang harus anda lakukan setiap harinya
2.Kata awal yang dibuat lebih banyak adalah kata kerja yang berhubungan dengan posisi anda di perusahaan misalnya jika anda seorang manager – maka kata awalnya: mengatur atau to manage…..
3.Tiap bagian Job Desc harus mencakup bagian-bagian pekerjaan yang dipadatkan dari beberapa pekerjaan kecil namun yang masih berhubungan. Contoh: Tugas administrasi termasuk: membuat surat, mencetak surat, meminta tanda tangan Direksi/Manager atas surat tsb dan menyimpan copy dari surat itu. Ini merupakan 1 (satu) Job Desc. BUKAN 4 (empat) Job Desc. Jadi JOB Desc. untuk pekerjaan ini : melakukan segala pekerjaan yang bersifat administratif seperti…… (potongan kerja diatas yang masih berhubungan dengan hal-hal administratif).
4.Dalam job desc. juga harus dicantumkan sejauh mana wewenang (otoritas) dari pekerja misalkan untuk level manager keuangan, salah satu contoh Job Desc-nya adalah:
Memeriksa dan menyetujui semua permintaan dana yang tepat, benar dan barhasil guna bagi kelancaran operasional demi kemajuan dan kepentingan perusahan sampai batas maksimum 10 juta rupiah.
5.Tiap-tiap job desc harus ditulis secara lengkap namun singkat, tepat dan benar. Jangan keluar dari inti pekerjaan pada jabatannya sehingga tidak membingungkan pekerja dan menghindarkan pekerja dari pekerjaan pada jabatan atau bagian lain.

Mudah-mudahan dengan sedikit tulisan ini anda dapat lebih memahami arti dan cara membuat job desc karyawan, apalagi jika anda adalah seorang praktisi HR.

Sukses untuk anda!


MV/RP/vbm

Thursday, February 17, 2011

Tipe-tipe Atasan dan Cara Menghadapi Mereka

Judul di atas diambil dari Bab 3 buku yang berjudul “Managing Your Boss” karangan Rashmi Datt, Penerbit PT Elex Media Komputindo tahun 2007. Buku ini terdiri dari 232 halaman + iv halaman tambahan. Dalam buku ini pengarang mengharapkan agar pembaca, terutama yang berprofesi sebagai karyawan atau lebih tepatnya bawahan, untuk dapat memahami diri sendiri, dapat menganalisa kepribadian atasan, menguasai komunikasi dengan atasan, dapat menjual ide anda, dan dapat membangun hubungan dengan atasan. Selain itu, bagi para atasan diharapkan dengan buku ini dapat mengetahui bagaimana harus bersikap kepada bawahan, meskipun dalam buku ini hal tersebut sangat sedikit sekali disinggung.
Kembali kepada judul di atas, saya mengambil judul tersebut karena saya berpikir bahwa sebagian dari kita adalah karyawan yang posisinya sebagai bawahan yang tentunya harus mengerti bagaimana cara kita mendukung kinerja atasan yang secara ilmu (memang tidak selalu) dan kedudukan lebih dari yang kita miliki. Sehingga kita sebagai bawahan dapat lebih menyesuaikan dan menyelaraskan respons terhadap mereka. Kalaupun kita sebagai atasan, kita juga perlu mengetahui tipe atasan seperti apakah kita saat ini, sehingga apabila ada yang belum baik dapat ditingkatkan menjadi lebih baik dan bertanggung jawab di hadapan bawahan.
Pengarang buku ini mengelompokkan atasan dalam 4 tipe, yaitu:
  1. Atasan yang kejam dan tidak berperasaan
  2. Atasan yang tertutup
  3. Atasan yang menyenangkan tetapi kurang menantang
  4. Atasan yang memungkinkan untuk berkembang atau atasan ideal
Tipe tersebut didasarkan pada dua aspek kualitas atasan, yaitu:
  1. Kompetensi, merupakan atasan yang memiliki kemampuan atasan untuk berkontribusi pada hasil akhir dalam memenuhi target, mendorong perubahan dengan strategi perencanaan dan implementasi yang sangat teliti, menangani pengkritik/penentang dengan cerdas.
  2. Kepemimpinan, yang meliputi perhatian terhadap orang lain, kemampuan membimbing dan memotivasi karyawan, kemampuan melihat potensi mereka bahkan jika mereka belum memilikinya, dan keberanian mengambil resiko dalam mendelegasikan kewenangan dan tanggung jawab.
I. Paling buruk adalah atasan yang kejam dan tidak berperasaan.
Ciri-ciri dari atasan tipe ini adalah bawahan tidak berdaya dan stres dalam menghadapinya. Ketika bawahan salah, dia (atasan) akan berteriak dan merendahkan bawahan dan kelompoknya, menabrak batas-batas kewibawaan diri, terkadang di hadapan seluruh bawahan yang lain. Terkadang bahkan sering dia tidak menerangkan dengan jelas apa keinginannya, seolah-olah dia selalu sibuk sehingga tidak dapat memberikan penjelasan. Bawahan dibuat dalam kondisi tertekan dan direndahkan.
Selalu meragukan integritas karyawan dengan memberikan tanyaan ”Nilai tambah apa yang Anda berikan terhadap pekerjaan?”. Memaksa bawahan dengan harapan-harapan yang tidak realistis. Mempunyai jiwa yang tidak seimbang, seperti orang tidak waras, dan brutal. Dia bereaksi dengan kemarahan dan kekejaman ketika harapannya tidak terpenuhi, dan menunjukan kekuasaan dengan menakut-nakuti para bawahan dan merendahkan mereka. Wataknya begitu cepat marah sehingga dampak seperti kehilangan kontrol.
Dia seringkali merasa sebagai diktator yang berkuasa penuh dan mampu menghukum serta menghancurkan siapapun yang menghalangi atau mempertanyakan otoritasnya. Dia juga tidak akan ragu mencari kambing hitam jika terjadi kesalahan. Dapat juga menguras habis tenaga bawahannya dengan menyerahkan berbagai tugas dalam batas waktu yang menyiksa dan tidak masuk akal. Ada kekurang pedulian yang nyata terhadap kehidupan bawahan.
Dia juga menolak membagikan informasi penting berkaitan dengan pengelolaan proyek secara keseluruhan, atau bahkan batas waktu. Kemudian dia juga sering menjatuhkan bawahan dalam setiap kesempatan. Berusaha mengatur dalam setiap situasi, terus-menerus menanykana masalah sepele dan mempertanyakan setiap keputusan yang dibuat.
Tipe atasan seperti di atas dapat menyebabkan kehancuran, karena secara tidak langsung bawahan akan merasa tidak berdaya, terasing, lemah dan tertekan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini mengakibatkan masalah kesehatan serius, seperti gangguan tidur, tekanan darah tinggi, usus buntu, dan iritasi usus besar.
Pertanyaannya sekarang adalah mengapa atasan seperti itu tetap ada dan sukses ? Seringkali karena bawahan memberikan hal-hal yang baik untuk atasan mereka, yang seakan-akan tidak tahu-menahu. Memang, bawahan mampu dalam mengembangkan kemampuan dan reputasi dalam menangani target-target sulit, mendorong proyek-proyek yang tidak masuk akal, dan membawa keberhasilan untuk perusahaan. Bawahan benar-benar kompeten dan cerdas, dan pihak manajemen melihat bawahan sebagai orang yang memiliki ”keunggulan”. Tentu saja ini merupakan pandangan yang sempit dan terbatas karena ketika energi orang-orang terkuras habis dan motivasinya hilang, hasil-hasil itu kemungkinan besar hanya akan bersifat sementara.
Untuk itu, ada beberapa strategi sederhana yang bisa diterapkan, antara lain:
  1. Memabngun kredibilitas dan jaringan dalam perusahaan dengan bersikap kooperatif kepada karyawan lain atau kepala divisi lain.
  2. Jika perlu, bicarakan masalah Anda kepada orang yang Anda percayai; namun jangan biasakan menumpahkan kemarahan panjang lebar atas penderitaan Anda dan menyambar setiap kesempatan dengan siapa saja yang bersedia mendengarkan atau memberikan dukungan kepada Anda (khususnya dalam perusahaan).
  3. Mencari bantuan dari divisi sumber daya manusia (human resources department)
II. Atasan yang tertutup
Atasan seperti ini adalah atasan yang cenderung untuk bermain aman (safe player), dia tidak banyak bicara sehingga bawahan seperti berada di tengah kabut. Menolak mengambil keputusan yang beresiko, berkeras untuk menjalankan, membimbing, dan mempertahankan system dan kebiasaan yang ada. Jarang sekali membagikan pemikiran (jika ada) dengan bawahan mengenai rencana masa depan dan tujuan jangka panjang divisi tersebut. Apabila ada paksaan dan serangan dari bawahan, dia hanya santai meskipun bawahan tahu bahwa dia marah dalam hati.
Atasan yang tertutup seperti burung unta yang tidak menyukai perubahan dan memilih bersembunyi sebagai sikap konservatif dan waspada. Atasan yang tidak banyak bicara pantasnya memang (dalam jangka waktu singkat) mempelajari system dan prosedur yang berlaku; namun dia akan menghambat perkembangan perusahaan, ide-ide, dan pendekatan baru. Dia memiliki kemampuan terbatas dalam menyelesaikan masalah, mengantisipasi dan bereaksi terhadap perubahan, dan tentu saja juga dalam mengembangkan visi atau strategi. Dia menghindari publisitas, konfrontasi atau konflik, juga jarang menekan tatkala tuntutak orang selevelnya menjadi agresif. Dia juga jarang menemukan solusi jangka pendek untuk menghadapi ketidakpuasan yang meningkat dan mempelajari seni bertahan hidup.
Atasan seperti ini sangat butuh keamanan dan ketentraman, dan berjuang keras untuk menciptakan lingkungan bagi dirinya yang dilengkapi dengan aturan, stabilitas dan keadaan yang dapat diramalkan. Untuk itu cara menghadapinya adalah :
  1. Tidak dengan melawan atau memperlihatkan secara langsung ketidaksukaan bawahan, karena atasan mempunyai kekuasaan yang besar atas suasana hati.
  2. Tetap focus terhadap pekerjaan, dengan menangani lebih banyak tanggung jawab (dengan lambat) merupakan kesempatan yang baik untuk dipandang sebagai seorang yang produktif.
  3. Frasekan saran-sana Anda menjadi pertanyaan, dan buatlah atasan berpikir bahwa ide-ide ini miliknya.
  4. Berikan pilihan-pilihan terbatas dan satu rekomendasi yang jelas.
  5. Catat pekerjaan Anda sebagai bukti kapabilitas Anda.
III. Atasan yang menyenangkan tetapi kurang menantang
Atasan seperti ini menjalankan departementnya seperti sebuah keluarga beasr. Jarang mengkritik dan membuat keputuasn yang menyulitkan atau memberatkan. Mencoba menyenangkan setiap orang, sehingga memperlemah kewenangannya dan semakin sulit mempertahankan standar disiplin dan performa kerja.
Atasan seperti ini memang menciptakan iklim tim yang menyenangkan dengan gaya yang hangat dan penuh perhatian. Mereka cenderung memberikan kesempatan kepada anggota-anggota baru untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, mereka jarang menekan atau bertentangan dengan orang lain di luar batas yang mereka tentukan karena mereka tidak ingin membuat orang marah meskipun sebenarnya mereka sendiri mudah terluka. Mereka cenderung terlalu serius menjalankan perannya sebagai ”orang tua” dan dalam prosesnya terlalu berlebihan membantu perkembangan dan mengontrol.
Menangani atasan yang menyenangkan tentunya merupakan yang termudah dari keempat tipe atasan lainnya. Masalahnya, walaupun memberikan persetujuan, pekerjaan yang hebat selalu mendapat prioritas tinggi. Respons jujur dan menantang selalu dihindari, akibatnya pembelajaran yang ketat dan kesempatan untuk berkembang hilang, yang tentnunya tidak akan membuat Anda berkembang lebih jauh.
Cara mengatasainya adalah sebagai berikut:
  1. Ketika menunjukkan rasa hormat dan patuh, janganlah berlebih-lebihan. Ini akan memancing sifat orang tua dalam dirinya sehingga dia akan memperlakukan bawahan sebagai anak kecil daripada seorang bawahan.
  2. Pertahankan sikap hormat, jangan terlalu akrab.
  3. Bahkan ditengah diskusi yang memanas, tetaplah tenang.
IV. Atasan yang memungkinkan untuk berkembang atau atasan yang ideal
Hanya sedikit orang yang beruntung mempunyainya – seorang atasan yang dinamis dan sukses, yang memiliki visi, kearifan, dan ketajaman berbisnis. Dia memiliki keberanian untuk berpikir besar, dan kegigihan untuk melaksanakan visi dan rencana-rencananya. Seorang yang jujur yang memiliki keberanian untuk mempertahankan pendiriannya tatkala orang lain meragukannya. Memiliki nyali besar untuk mengambil resiko, dan bersedia mendelegasikan kewenangannya kepada bawahan yang dia percayai memiliki potensi dan dapat berkembang.
Dia tidak ragu memberikan perhatian, tidak segan-segan memberikan pujian saaat diperlukan. Dia mendapatkan manfaat dari sifatnya yang penuh perhatian, baik, dan dapat dipercaya. Karena pintar membaca karakter dan bakat orang, dia sensitif pada masalah-masalah pribadi. Integritasnya tidak disangsikan lagi, dan dia seorang yang disiplin dan bertanggung jawab pada nilai-nilai pekerjaan.
Dia tidak memberikan toleransi kepada para pemalas atau orang yng lamban, dan dapat memberikan keputusan yang tidak berperasaaan dengan ”membiarkan pergi” pekerjanya jika perlu demi hasil akhir yang diinginkan. Atasan seperti itu selalu fokus pada kendali. Akan tetapi, bagi mereka yang menunjukkan kegigihan bekerja, dia bersedia menjadi mentor mereka dan memberikan kesempatan tidak terbatas untuk tumbuh dan berkembang.
Cara menghadapi atasan seperti ini adalah:
  1. Karena tuntutan mereka adalah standar tinggi pada performa kerja, maka bawahan harus yakin dapat mengimbangi atasan yang menuntut hasil terbaik.
  2. Ambil inisiatif dan tunjukan antusiasme.
  3. Cermati segala perincian, fakta, dan angka untuk meyakinkan bahwa semuanya bebas dari kesalahan.
  4. Tunjukan dukungan dan loyalitas sebagai bawahan.
Menurut pengarang deskripsi keempat tipe atasan disini adalah tipe ekstrem. Dalam kehidupan sesungguhnya, tidak ada atasan yang benar-benar tepat seperti digambarkan salah satu tipe. Semuanya tergantung dari sisi mana bawahan melihat sifat pemimpinnya. Saya berharap masalah ini dapat menjadi gambaran bagi kita terutama bawahan untuk melihat bagaimana orang yang memimpin kita, dan bila Anda sebagai atasan bagaimana agar dapat menjadi atasan yang baik dan dihormati oleh para bawahan. Tulisan ini berguna bagi kita semua untuk berinterospeksi, memandang ke dalam diri kita masing-masing, dalam hubungannya dengan sesama manusia.
Diringkas dari buku “Managing Your Boss” karangan Rashmi Datt, Penerbit PT Elex Media Komputindo tahun 2007 oleh Krisna Fery, warga negara Indonesia yang (sementara ini) berprofesi (juga) sebagai bawahan.

Wednesday, February 16, 2011

Bagaimana sebaiknya sikap atasan terhadap bawahan dan sebaliknya??

Jika atasan tersebut :
-pemarah

apa menurut anda atasan begitu, karena tidak pernah merasakan kerja berat dan diperintah2 atau bahkan dimarah hingga makian??
syarief by syarief
Anggota sejak:
06 Desember 2007
Total poin:
1,449 (Tingkat 3)

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Penanya

Bila boss tetap pada pendapatnya, itu berarti beliau konsisten
Bila staff tetap pada pendapatnya, itu berarti dia keras kepala !

Bila boss berubah-ubah pendapat, itu berarti beliau fleksibel.
Bila staff berubah-ubah pendapat, itu berarti dia plin-plan !

Bila boss bekerja lambat, itu berarti beliau teliti.
Bila staff bekerja lambat, itu berarti dia tidak perform !

Bila boss bekerja cepat, itu berarti beliau smart.
Bila staff bekerja cepat, itu berarti dia terburu-buru !

Bila boss lambat memutuskan, itu berarti beliau hati-hati.
Bila staff lambat memutuskan, itu berarti dia telmi !

Bila boss mengambil keputusan cepat,
itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila staff mengambil keputusan cepat, itu berarti dia gegabah !

Bila boss terlalu berani mengambil resiko, itu berarti beliau risk taking.
Bila staff terlalu berani mengambil resiko, itu berarti dia sembrono !

Bila boss tidak berani mengambil resiko, itu berarti beliau prudent.
Bila staff tidak berani mengambil resiko, itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila boss mem-by pass prosedur, itu berarti beliau proaktif-innovatif.
Bila staff mem-by pass prosedur, itu berarti dia melanggar aturan !

Bila boss curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti beliau waspada.
Bila staff curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti dia negative thinking !

Bila boss menyatakan sulit, itu berarti beliau prediktif-antisipat if.
Bila staff menyatakan sulit, itu berarti dia pesimistik !

Bila boss menyatakan mudah, itu berarti beliau optimis.
Bila staff menyatakan mudah, itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila boss sering keluar kantor, itu berarti beliau rajin ke customer.
Bila staff sering keluar kantor, itu berarti dia sering kelayapan !

Bila boss sering entertainment, itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila staff sering entertainment, itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila boss sering tidak masuk, itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila staff sering tidak masuk, itu berarti dia pemalas !

Bila boss minta fasilitas mewah, itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.
Bila staff minta fasilitas mewah, itu berarti dia banyak menuntut !

………..dan masih banyak lagi.

Bila boss membuat tulisan seperti ini, itu berarti beliau humoris.
Bila staf membuat tulisan seperti ini, itu berarti dia :
frustasi
iri terhadap karir orang lain
negative thinking
barisan sakit hati
provokasi
tidak tahan banting
berpolitik di kantor
tidak produktif
tidak sesuai dengan budaya perusahaan
……….dan masih banyak
  • 3 tahun lalu

Tuesday, February 15, 2011

Tanda-Tanda Bos Egois

Ekonomi - / Rabu, 1 September 2010 09:03 WIB
Bingung karena sering merasa tertekan di kantor? Jangan selalu menyalahkan beratnya tugas yang diberikan, bos juga perlu diteliti lho, sebab bisa jadi, dialah sumber segala stres yang Anda rasakan.

Di kantor, di rumah, dalam lingkungan pergaulan, kita selalu bertemu dengan orang-orang yang suka semau gue. Ingin sukses tapi orang lain yang disuruh kerja banting tulang, ingin maju namun enggan bergerak. Apa bukan egois itu namanya? Untuk lebih mengenal secara spesifik atasan Anda, berikut kami jabarkan beberapa tanda yang bisa dibaca dari pribadi egois.

Mencegah Anda terbang

Bos yang egois biasanya sangat sensitif dengan pekerja fresh dan produktif yang berpotensi untuk 'menggigit tumit' mereka. Tak peduli secerdas apapun karyawannya, entah bagaimana si bos selalu menang. Jadi bila Anda menemukan diri bekerja sampai larut namun tak pernah diajak untuk menghadiri rapat penting, maka pertimbangkan lagi pekerjaan sebab bisa jadi bahwa sayap promosi Anda takkan pernah mendapat tempat untuk dikepakkan.

Mencuri pekerjaan

Benci disaingi apalagi dikalahkan oleh bawahannya, bos yang egois biasanya merampas acungan jempol yang semestinya pantas Anda terima. Anda yang berpikir keras, bos yang dapat tepuk tangan. Weleh...

Menjadikan Anda sebagai umpan

Anda bangga saat diangkat menjadi tangan kanan atasan (siapa yang tidak?). Namun masalahnya, kini Anda jugalah yang harus menangani semua 'pekerjaan kotor'nya. Mulai dari mem-PHK karyawan, menjadi pelampiasan klien yang marah-marah karena ulah bos, hingga bertanggung jawab menjelaskan masalah penundaan bonus bagi para karyawan yang sedang berdemo.

Memberi kesulitan baru

Oke, Anda sudah berhasil membuktikan integritas dan kini Anda dipercaya untuk menangani proyek besar. Masalahnya, bos hanya memberi Anda sedikit informasi tentang proyek tersebut dan Anda juga selalu diberi deadline yang sebenarnya mustahil untuk dipenuhi. Ditambah lagi, tim Anda bukanlah orang-orang yang bisa diajak kerjasama dengan baik.

Mengganggu akhir pekan

Entah bagaimana selalu saja ada cara si bos untuk membujuk Anda mengurusi kerjaan saat akhir pekan tiba. Mulai dari permohonan yang disampaikan dengan nada memelas hingga perintah tak terbantahkan, semua request tersebut benar-benar berhasil merengkuh hari libur Anda.

Aturan...aturan...aturan..

Fleksibilitas, hmm, Anda bahkan lupa kapan terakhir kali Anda merasakannya. Ide Anda yang jelas-jelas berbobot (bahkan 90% rekan lain mengacung setuju) ditolak mentah-mentah hanya karena tak sesuai dengan aturan perusahaan yang konservatif.

Nada bicaranya itu lho!

Bos bermuka dua memang susah untuk dihadapi. Dia memuji Anda hanya karena menginginkan prestasi yang lebih lagi untuk ke depannya. Selalu saja ada yang kurang di matanya. Kritikan memang penting, namun jika selalu saja ada yang kurang dari kerjaan Anda, maka di matanya Anda tetap kalah dan tidak pernah menang.

Licik

Bos ingin memajukan usahanya dan dia mulai melancarkan aksi liciknya. Salah satunya adalah dengan menjanjikan promosi menggiurkan bagi karyawan yang mau bekerja keras. Bilang ke A begini, ke B begitu, membuat A dan B saling menusuk satu sama lain. Hasilnya A dan B saling berlomba (bahkan bisa jadi saling menjatuhkan karena bersaing memperoleh promosi), dan bos yang diuntungkan dengan usaha maksimal mereka berdua.

Bertahan atau berhenti?

Memang hanya ada 2 pilihan saja untuk menghadapi bos demikian, mau bertahan atau berhenti?

Jika bertahan adalah pilihan Anda, maka usahakan agar diri Anda menghadapi keegoisannya dengan sikap profesional dan tegas, namun tetap sopan. Namun bila Anda memutuskan untuk hengkang, maka tak perlu malu. Suasana kerja seringkali jauh lebih penting daripada berat-tidaknya pekerjaan yang Anda tangani. Jadi, pikir baik-baik sebelum mengambil keputusan ya.(kpl/*)

Jadi Bos Tanpa Harus Jadi Musuh

KOMPAS.com - Semakin tinggi pohon, maka angin akan semakin kencang menerpa Anda. Pepatah ini memang benar. Anda kini berada di posisi bos, entah manager atau supervisor. Tetapi kenapa ya, semakin banyak orang yang bergunjing di belakang Anda? Bahkan sahabat Anda perlahan mulai menjauh. Apakah Anda berbuat kesalahan, ataukah memang sikap Anda berubah?

Memang tidak mudah menjadi bos baru. Sekarang ada batasan-batasan yang yang mungkin tidak tertulis di atas kontrak kerja. Jika atasan yang lama cenderung tidak performed, dan Anda bertugas membenahi divisi Anda, ada kemungkinan Anda akan dianggap terlalu bossy. Dan pada akhirnya Anda di musuhi.

Padahal, dulu Anda berada di sisi mereka. Anda dianggap menunjukkan sikap yang tidak "pro karyawan". Apa pun jabatan Anda, jangan sampai Anda berkuasa dan bersikap posesif terhadap bawahan. Anda harus tetap bisa menjaga wibawa, dan punya tata krama saat berbicara dengan bawahan yang mungkin usianya jauh lebih tua dari Anda.
Anda mulai merasa dibenci teman yang sekaligus bawahan Anda? Ini beberapa cara agar Anda tetap bisa jadi bos tanpa harus jadi musuh.
1. Berbagi dan peduli
Jangan mentang-mentang jadi bos, Anda merasa lebih di atas teman-teman Anda. Anda jadi kurang bergaul, tidak memiliki empati dengan mereka. Padahal sebagai bos, yang Anda harus lakukan adalah lebih mengenal karakter dari masing-masing bawahan Anda. Tidak ada salahnya berbagi cerita saat makan siang bersama.

2. Tidak melempar kesalahan
Seorang atasan yang berwibawa, akan bertanggung jawab terhadap kesalahan kecil ataupun besar yang dibuat oleh anak buah atau timnya. Kekuasaan dan gaji Anda yang lebih tinggi memiliki sebuah alasan. Yaitu bahwa Anda akan mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih dari mereka.

3. Jangan sok tahu segalanya
Meskipun Anda bos dan punya banyak pengalaman, bukan berarti Anda tahu segalanya. Bawahan Anda pun ada yang memiliki masa kerja yang lebih lama daripada Anda. Nah, tugas Anda adalah memotivasi mereka agar mau berbagi ide tanpa harus merasa canggung karena menganggap Anda sudah memiliki ide yang cemerlang.

4. Bermuka satu lebih baik daripada bermuka dua
Jangan pernah mengeluhkan pekerjaan atau mengeluhkan salah satu bawahan Anda pada teman sejawat Anda. Apalagi pada bawahan Anda yang lainnya. Sebab Anda bisa dianggap bermuka dua. Di depan mereka Anda tidak memiliki masalah. Sedangkan di belakang mereka, Anda mengeluh (menusuk dari belakang). Mereka bisa melakukan hal yang sama untuk Anda. Jadi jangan menusuk jika tidak ingin ditusuk.

5. Katakan yang sebenarnya meskipun menyakitkan
Anda tidak pernah memberikan kritikan yang membangun atau memberikan penilaian atas apa yang kurang dari suatu pegawai. Tiba-tiba ia disalahkan karena dianggap menjadi penghambat dalam suatu proyek. Cara ini tidak bijak, dan pada akhirnya akan menghambat kerja tim yang lain. Bicarakan dengan bawahan yang bermasalah secara pribadi (berdua tapi tetap formal).

6. Ucapkan tolong dan terima kasih
Meskipun tugas-tugas yang Anda berikan pada bawahan adalah mutlak tanggung jawab dan target mereka, bukan berarti Anda tidak bisa mengatakan "tolong" atau "terimakasih". Mengatakan "tolong" pada bawahan akan memberikan penghargaan untuk mereka, begitu juga dengan kata "terima kasih". Semangat mereka akan melambung. Jangan memberikan tugas seperti memberikan perintah.

7. Jangan mencuri ide atau mencuri waktu mereka
Ingin dihormati dan disegani oleh bawahan? Jangan mencuri ide mereka, atau mencuri waktu untuk memperlambat kedatangan ke kantor atau dalam pertemuan. Mencuri ide mereka yang tidak sengaja Anda dengar di kamar mandi? Wah, kalau semua orang melakukan hal itu, tak terbayangkan apa jadinya proyek-proyek tim Anda nanti ke depan.

8.  Katakan Anda menyesal
Tidak berhasil dengan proyek yang sudah dirancang sedemikian rupa? Bukan berarti Anda harus terlihat lemah atau uring-uringan menyalahkan bawahan. Katakan Anda menyesal bahwa tim tidak bisa mencapai target. Mereka bukan anak kecil yang tidak mengerti kata-kata dan harus diberikan hukuman atau makian, kan?

9. Jangan sok berkuasa
Karena menjadi bos, Anda merasa punya hak untuk menjentikkan tangan? Tidak. Justru sebaliknya, tetaplah berada di jalur profesional. Anda tetap mendelegasikan tugas-tugas dan tetap melakukan tugas dan kewajiban Anda tanpa harus melemparkan pada bawahan. Perlihatkan bahwa Anda tetap bisa mandiri.

10. Berkata jujur dan tidak curang
Jika Anda salah, katakan kalau Anda salah dan meminta maaf. Katakan terus terang dan jujur kalau Anda memang tidak suka dengan sikap ataupun kerja bawahan Anda. Tapi harus dengan alasan yang objektif, ya.

Sumber: The Gir's Guide to being a Boss (Without Being A Bitch)


Print Postingan