Rabu, 23 Februari 2011

Pembuatan Kartu Jamaah Masjid

Bagaimana cara mengelola masjid dan jamaahnya dengan baik dan benar maka tidak ada cara lain kecuali mengacu kepada Rasulullah SAW. Kita tidak bisa kemudian mencoba mereka-reka untuk menyusun cara atau teknik lain. Atau mencoba mengadop dari cara–cara Barat karena selama ini dianggap yang berasal dari barat lah yang termaju dan modern. Dan jikalau tidak mengambil dari mereka maka masjid tidak akan jadi modern. Itu adalah anggapan yang sangat keliru.
Rasulullah SAW adalah satu-satunya manusia yang diakui Allah SWT sebagai manusia yang paling baik akhlaknya, paling baik budi pekertinya, paling baik perilakunya sehingga harus dijadikan contoh bagi umat manusia, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Ahzaab :
“ Sunggguh pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi kaum orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah ”
(Al Ahzab:33:21)
Kalau yang empunya jagad sudah menyatakan demikian maka kita harus sami’na wa atho’na. Tunduk dan patuh.
Semenjak dunia ini diciptakan dan semenjak manusia diturunkan di dunia sampai kini maka Allah hanya menyatakan sekali bahwa setiap manusia agar mencontoh Nabi Muhammad SAW. Yang cilaka adalah justru umat Islam yang merasa memiliki Nabi Muhammad yang mengakui Nabi Muhammad adalah utusan Allah, tetapi tidak pernah mengikuti apa yang dikerjakan junjungannya. Ini adalah kebodohan dan kekonyolan yang dialami oleh umat Islam saat ini. Dalam mengelola masjid misalnya umat Islam justru tidak mengikuti cara-cara dan hal-hal yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Dalam menangani jamaah tidak mengikuti cara Nabi memperlakukan jamaah. Dalam menentukan pimpinan masjidpun tidak mengikuti cara Nabi yaitu dengan menghormati Imam masjid daripada yang lainnya. Semestinya Imam masjidlah yang lebih menjadi fokus perhatian daripada manusia lain yang ada didalam masjid. Bukankah Nabi Muhammad SAW sebelum jadi kepala negara adalah seorang imam sholat. Bukankah Abu Bakar sebelum menjadi khalifah adalah seorang imam masjid. Bukankah Umar bin Khattab sebelum menjadi khalifah adalah seorang imam masjid? Demikian seterusnya sahabat yang lain.
Ini harus menjadi contoh bagi kita dalam mendudukkan posisi masjid sesuai dengan pola dan cara Rasululah SAW
Ada 2 episode dari sekian banyak episode bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan jamaahnya :
Kesederhanaan manajemen Nabi dalam mengelola masjid nampak dalam episode yang telah banyak diketahui umat antara lain :
1. Ketika akan sholat Nabi selalu berbalik, mengecek dulu jamaah dengan meneliti jamaahnya. Pada suatu ketika salah seorang jamaah tetapnya tidak hadir dalam jamaah sholat. Beliau bertanya :”Mana si fulan?’ Salah seorang jamaah menyampaikan bahwa fulan sedang sakit. Lalu setelah selesai sholat Nabi mengunjungi fulan di rumahnya. Ini menunjukkan bahwa Nabi sangat perhatian (CARE) kepada jamaahnya maka pengurus masjid atau imam masjid harus pula mengikuti contoh Rasulullah SAW untuk peduli (CARE) kepada jamaahnya.
2. Setelah sholat Jum’at dari atas mimbar Rasulullah SAW selalu menanyai jamaahnya : “Siapa yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan?” Apabila ada yang mengangkat tangannya bahwa dia sedang dalam kesulitan atau kekurangan diminta untuk menjelaskan kesulitan atau kekurangan yang dihadapinya. Kemudian Nabi bertanya lagi apakah dari jamaah yang hadir yang telah diberi rezeki Allah yang mempunyai kelebihan dapat membantu mereka yang kesulitan dan kekurangan itu?
Dengan cara ini maka setelah Jum’at ditunaikan, problematika umat dapat langsung diselesaikan tuntas. Bukankah Hari Jum’at itu merupakan hari Raya umat Islam dan bukankah setiap hari raya diharapkan tidak ada orang yang kesulitan ataupun kekuatan?
Contoh atau keteladanan Rasulullah SAW diatas ternyata belum pernah ada yang mempraktekkannya di masjid di tanah air ini. Mengapa tidak dibudayakan?
Episode diatas memperlihatkan bagaimana Nabi memperlakukan jamaah masjid terlihat dari hal-hal yang telah dilakukannya selama di masjid yang kesimpulannya antara lain:
  1. Nabi peduli dan mengenal dengan baik setiap jamaah masjid.
  2. Nabi mengetahui kehadiran setiap jamaah dengan cara mengecek (meregister in mind) jamaah.
  3. Nabi mengetahui keadaan masing-masing jamaah baik kesehatan, ekonomi maupun kesulitan yang dihadapi jamaah.
  4. Nabi menggunakan masjid sebagai tempat untuk saling mengenal keadaan setiap jamaah dan berbagi antara yang mampu dengan yang tidak mampu secara transparan.
  5. Nabi melakukan takziah kepada mereka yang sedang menderita sakit atau mengalami kemalangan.
Data dan informasi Jamaah.
a. Agar upaya memakmurkan masjid dapat diselenggarakan sesuai dengan arahan Al Qur’an dan As Sunnah maka diperlukan data yang benar dan akurat mengenai keadaan jamaah masjid.
b. Agar masjid dapat diarahkan menjadi “Islamic Centre” seperti yang terjadi di jaman Rasulullah SAW maka diperlukan informasi yang benar mengenai situasi dan keadaan jamaah masjid.
c. Mempersiapkan masjid dan jamaah untuk menjawab tantangan globalisasi yang akan melanda
masjid dan umat Islam Indonesia.
d. Registrasi jamaah dengan memberikan Kartu Jamaah Masjid adalah sebagai perwujudan perintah Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam surat At Taubah ayat 18 dan An Nuur 36-38 :
“ Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian , serta tetap mendirikan shalat , menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah , maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”
( At Taubah: 9 :18)
“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama_nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakinaya tanpa batas.
(An Nuur:24:36-38)
e. Mencontoh Rasulullah SAW yang selalu peduli dan mengetahui keadaan setiap jamaah masjid. Rasulullah SAW selalu meregistrasi jamaahnya.
f. Meningkatkan kecintaan jamaah kepada Rumah Allah,
g. Mendekatkan jamaah dengan masjidnya,
h. Mendekatkan jamaah dengan pengurus masjid,
i. Mendekatkan jamaah dengan imam masjid,
j. Mengembangkan potensi jamaah baik untuk keagamaan dan maupun masalah ekonominya,
k. Mengakrabkan silaturahim diantara jamaah,
l. Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama jamaah,
m. Menyelesaikan persoalan umat melalui masjid,
n. Merupakan langkah kecil menuju Quantum Leap membangun masyarakat yang Islami.
Dasar bagi masjid untuk membina jamaahnya dapat mengacu kepada Hadits sebagai berikut :
“Ketika Nabi akan sholat maka terlebih dahulu melihat ke arah jamaah, ketika meneliti shaffnya beliau mengetahui bahwa seorang jamaah yang biasanya hadir tidak ada dalam barisan shaffnya.” Kemana fulan? tanya Nabi. Salah seorang jamaah menyampaikan bahwa yang bersangkutan sakit. Kemudian setelah menunaikan shalat Rasulullah mendatangi rumah fulan untuk takziyah.”
Episode ini meskipun diceritakan sangat sederhana namun mengandung makna yang sangat mendalam dan mendasar yaitu :
  • Pengurus masjid mengabsen jamaahnya
  • Pengurus masjid harus peduli dengan jamaahnya.
  • Pengurus masjid harus mengetahui keadaan jamaahnya.
  • Pengurus masjid harus melakukan silaturahim untuk menyelesaikan persoalan jamaahnya.
  • Pengurus masjid tidak hanya memperhatikan kepentingan dirinya sendiri.
Mengenali setiap jamaah bukanlah hal yang mudah, terlebih-lebih bagi masjid besar. Untuk itu perlu dibuat suatu sistem yang memudahkan untuk mengenali setiap jamaah dan sekaligus membangun silaturahim diantara jamaah.
Sistem yang diterapkan adalah :
Pertama : Registrasi jamaah.
Untuk menumbuhkan keterkaitan jamaah dengan masjid salah satu cara yang dapat dilakukan melalui registrasi jamaah. Setiap jamaah diberikan nomor keanggotaan jamaah masjid yang disebut dengan KJM atau Kartu Jamaah Masjid. Setiap kartu jamaah bersifat unik yaitu setiap jamaah hanya berhak memiliki satu kartu jamaah masjid. .
Tidak dibenarkan( illegal) mempunyai dua nomor anggota jamaah masjid.
Kartu Jamaah Masjid akan terkait dengan Nomor Pokok Masjid (NPM)nya, terdiri dari 16 digit yaitu 11 digit pertama adalah identifikasi dari masjidnya sedangkan 2 digit berikut adalah nomor jamaahnya dan 3 digit berikutnya adalah nomor urut dalam jamaah.
  • 1 - 11 ( 11 digit ) adalah NPM
  • 12 - 13 ( 2 digit ) adalah Nomor Jamaah seluruhnya 99
  • 14 - 16 ( 3 digit ) adalah nomor urut dalam jamaah

Kartu Jamaah Masjid

kartu2
Kartu Jamaah Masjid dikeluarkan oleh setiap masjid dengan memperhatikan ketentuan dasar yang ditetapkan dalam Pedoman Manajemen Masjid ini.
Setiap jamaah masjid untuk memperoleh Kartu Jamaah Masjid perlu terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Pengurus Masjid dengan melampirkan photocopy Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga serta dilengkapi photo diri 2×3. Kartu Masjid diperoleh secara cuma-cuma.
Memiliki kartu jamaah tidak dimaksudkan sholatnya hanya dilakukan di masjid yang tercantum dalam kartu jamaah tertentu tetapi dimaksudkan agar jamaah lebih memperhatikan persoalan yang terjadi di masjid tempat yang bersangkutan menjadi anggotanya. Dia tetap bisa melakukan sholat di masjid mana saja.
kartu3
Kedua : Sub jamaah.
Untuk memudahkan pembinaan anggota, maka jamaah masjid dikelompokan menjadi sub-sub jamaah, misalnya masjid dengan jumlah jamaah sebanyak 300 orang dibagi dalam kelompok menjadi 10 – 20 sub jamaah. Setiap sub jamaah terdiri dari 10 KK.
Masjid adalah rumah Allah maka mereka yang ada di dalam masjid adalah merupakan jamaah Allah maka setiap sub-sub jamaah adalah merupakan jamaah Allah. Nama Allah SWT adalah ismudz Dzat yang mengandung seluruh pengertian yang ada dalam Asmaul Husna.
Al Asma ul Husna berasal dari kata ismi (nama) dan husna (indah). Artinya nama-nama yang indah. Nama-nama tersebut hanya dimiliki dan disandang oleh Allah SWT. Jumlahnya tentunya lebih dari 99 namun yang dikenal jumlahnya 99.
“ Allah mempunyai asma al-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan nama-nama yang baik itu,…..”
(Al A’raaf:7:180)
“ Dialah Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia memiliki Al Asmaul Husna (nama-nama baik yang indah)”
(Thaaha:20:8)
“… Dengan nama yang mana saja kamu menyerunya, maka bagi-Nya nama-nama yang baik….”
(Al Israa:17:110)
Setiap kelompok jamaah di mesjid diberi nomor urut dari satu dan seterusnya serta diberikan nama-nama yang baik yang terkait dengan Asmaul Husna sehingga jamaah di mesjid membentuk satu kesatuan jamaah yang utuh menjadi “Jamaah Al Asma ul Husna”. Asma ul Husna adalah sifat-sifat Allah yang merupakan fitrah yang ada dalam diri manusia yang ada sejak Allah meniupkan ruh dalam diri manusia sebagaimana dinyatakan dalam surat As Sajdah :
“ Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya dari Ruh-Nya, dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati”
(As Sajdah:32:9)
Dengan ditiupkan ruh dari Allah kepada diri manusia maka manusia membawa sifat-sifat keilahian dalam dirinya. Itulah semuanya yang merupakan fitrah yang ada pada diri manusia. Fitrah itu merupakan kesatuan yang utuh. Tidak bisa dipisah-pisahkan dan berdiri sendiri. Sifat-sifat Tuhan yang serba Maha tersebut semuanya ada pada diri manusia dalam batas kemampuan manusia selaku makhluk Allah. Manusia sebenarnya mewarisi sifat-sifat Allah itu dalam dimensi kemakhlukan.
Oleh karena itu dalam memilih nama kelompok jamaah nantinya tidak perlu berpendapat bahwa nama yang satu lebih baik dari nama yang lain. Sehingga lebih memilih nama kelompok jamaah tertentu dengan mengabaikan nama kelompok jamaah yang lain dengan alasan bahwa nama yang satu lebih baik dari yang lain. Semua nama-nama Allah yang 99 adalah baik semua.
“… Dengan nama yang mana saja kamu menyerunya, maka baginya nama-nama yang baik….”
(Al Israa:17:110)
“ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-ku, ……”
( Al Fajr : 89 : 27-29)
“ Sesungguhnya yang meramaikan rumah-rumah (masjid-masjid) Allah, mereka itu adalah ahli Allah ‘Azza wa Jalla”
(HR Thabrani)
Pengorganisasian Jamaah
Organisasi jamaah diselenggarakan sebagai berikut :
  • Jamaah masjid dibagi dalam beberapa kelompok jamaah dan masing-masing kelompok jamaah diberi nomor dan nama.
  • Nama kelompok jamaah ditetapkan oleh pengurus masjid secara berurutan dari nomor satu dan seterusnya hingga nomor kelompok jamaah terakhir yaitu No 99.
  • Setiap kelompok jamaah terdiri dari 10 Kepala keluarga.
  • Setiap kelompok jamaah mengangkat : seorang ketua dan seorang sekretaris berdasarkan pemilihan secara musyawarah.
  • Setiap anggota kelompok jamaah bertanggung jawab secara bersama mengenai keadaan dan kondisi dari setiap anggota jamaahnya
  • Setiap kelompok jamaah melakukan pertemuan bulanan.
  • Seluruh pengurus kelompok jamaah mengadakan pertemuan evaluasi minimal dua bulan sekali.
  • Jamaah Asma ul Husna dari masjid yang satu melakukan pertemuan silaturahim dengan pengurus jamaah Asma ul Husna dari mesjid yang lain guna meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan kualitas ummat.
Pembinaan Jamaah.
Oleh karena setiap jamaah membawa dan terlibat dengan nama-nama Allah maka dia harus benar-benar menjaga dirinya baik-baik dalam perilaku di masjid maupun diluar mesjid. Dia tidak boleh berperilaku dengan seenaknya. Dia membawa etika berjamaah sebagai bagian dari jamaah Asmaul Husna. Etika jamaah Asma ul Husna nampak pada perilaku dan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Setiap kelompok jamaah melakukan pengkajian mengenai sifat Allah yang menjadi nama kelompok jamaahnya. Melalui sifat Allah ini mencoba mengkaitkan dengan sifat-sifat Allah yang lain sehingga dengan demikian setiap anggota kelompok jamaah akan mengerti mengenai sifat-sifat Allah yang 99 sebagai satu kesatuan yang utuh.
Kajian itu dapat dilakukan juga dengan melakukan secara silang dengan kelompok jamaah yang lain sehingga akan memperkaya pemahaman mengenai sifat-sifat Allah itu. Kajian diteruskan dengan berusaha meningkatkan kualitas keislaman, keimanan dan ketakwaan setiap jamaah.
Pembinaan jamaah masjid sangat perlu untuk dilakukan dalam rangka ukhuwah Islamiyah. Seringkali ditemui jamaah yang tercerai-berai khususnya dalam menyelesaikan masalah masjid, misalnya saja hanya persoalan sepele saja seperti do’a qunut menjadikan jamaah tidak kompak lagi. Hanya persoalan shalat Ied di dalam masjid jamaah tidak mau shalat di tempat masjid yang mereka menjadi jamaahnya .
Banyak kaum muslimin merasa dirinya tidak menjadi jamaah atau anggota dari suatu masjid tertentu, sehingga mereka tidak memiliki komitmen pada pengembangan umat. Jika seseorang jamaah sakit misalnya, seyogyanya pengurus masjid bersama dengan jamaah lainnya untuk mengunjungi jamaah yang sakit. Seandainya ada anggota jamaah yang meninggal dunia, pengurus masjid menggerakkan jamaah untuk takziah ke rumah duka dan ikut membantu untuk hal-hal diperlukan.
Untuk membina jamaah masjid, pengurus masjid harus bersikap ramah dan senang melakukan silaturahmi diantara para jamaah seperti yang dilakukan dalam peringatan hari besar Islam. Pada peringatan Maulud Nabi s.a.w misalnya, masjid mengadakan syukuran peringatan dengan melakukan pengajian . Didalam pengajian para jamaah dianjurkan untuk membawa sekedar hidangan untuk dimakan bersama-sama bahkan diundang para jamaah yang dalam keadaan fakir atau miskin.
Jamaah yang tergolong fakir dan miskin masih belum tertangani secara baik, sehingga terjadi jurang perbedaan yang lebar antara si miskin dan si kaya. Islam sebenarnya tidak menghendaki keadaan seperti diatas tetapi menganjurkan ditumbuhkannya saling menyayangi antar yang berpunya dengan yang fakir miskin dan juga dengan anak yatim..
Pembinaan umat bisa dilakukan melalui ibu-ibu dan remaja. Pembinaan pada kaum pria memang sedikit sulit dibandingkan dengan kaum wanita. Misalnya untuk ibu-ibu dengan mudah dilakukan melalui arisan atau perkumpulan pengajian, sedangkan bagi kaum pria dengan segala kesibukannya seringkali sulit dilakukan. Para kaum pria mungkin lebih banyak dimulai dari kaum lanjut usia yang sudah purna bakti, karena sudah tidak banyak kesibukan sehingga perkumpulan pensiunan masjid bisa saja dibentuk.
Pembinaan pada remaja masjid bisa dijadikan alternatif bagi pembinaan jamaah . Jamaah remaja perlu motivasi dari para orang tua maupun dari pengurus remaja masjid. Dengan berbagai kegiatan nyang bermanfaat seperti kelompok diskusi, kelompok olahraga, musik maka para remaja tidak segan untuk berkumpul di masjid . Para remaja bias dirangsang dengan minat baca melalui perpustakaan masjid yang diselenggarakan oleh masjid.
Selain itu hal-hal yang terkait dengan ekonomi dibina dengan pembentukan koperasi masjid, Baitul Mal dll. Perlunya ditingkatkan gemar membaca Al Qur’an dan As Sunnah serta ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan perpustakaan masjid. Kesehatan jamaah dibina melalui Poliklinik Masjid. Dalam rangka membantu jamaah yang sedang mengalami kesulitan baik rohani maupun jasmani, pengurus masjid cq Bidang Pendidikan dan Peribadatan menyediakan pembimbing kerohanian (Asy Syifa) disetiap masjid.
Setiap pengurus kelompok jamaah senantiasa mengecek keadaan anggota jamaahnya setiap saat. Apabila terjadi musibah atau hal-hal yang tidak menyenangkan agar segera dapat ditanggulangi secara berjamaah (gotong-royong)

0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Poskan Komentar

Pasang Kode Iklan sobat yg berukuran 120 x 600 disini!!!